Profile

  • fine a`y
    fine a`y
    abtsrak namun nyata. dulu pendiam tapi sekarang suka berbagi cerita. Sejak kecil hidup penuh tantangan. Saat ini sedang mencari sahabat, teman, dan karib sejati.

Categories





Wahai putriku, engkau adalah perempuan yang paling pandai memakai wewangian. Oleh karena itu perliharalah dua perkataan : Nikahlah dan pakailah wewangian dengan menggunakan air hingga wangimu seperti bau yang ditimpa air hujan.

 “Wahai anak perempuanku! Bahwasanya jika wasiat ditinggalkan karena suatu keistimewaan atau keturunan maka aku menjauh darimu. Akan tetapi wasiat merupakan pengingat bagi orang yang mulia dan bekal bagi orang yang berakal. Wahai anak perempuanku! Jika seorang perempuan merasa cukup terhadap suami lantaran kekayaan kedua orang tuanya dan hajat kedua orang tua kepadanya, maka aku adalah orang yang paling merasa cukup dari semua itu. Akan tetapi perempuan diciptakan untuk laki-laki dan laki-lakai diciptakan untuk perempuan.

Wahai anakku, inilah kenyataan yang engkau hadapi dan inilah masa depanmu. Inilah keluargamu, di mana engkau dan suamimu bekerja sama dalam mengarungi bahtera rumah tannga. Adapun bapakmu, itu dulu. Sesungguhnya aku tidak memintamu untuk melupakan bapakmu, ibumu dan sanak saudaramu, karena mereka tidak akan melupakanmu selamanya wahai buah hatiku. Bagaimana mungkin seorang ibu melupakan buah hatinya. Akan tetapi aku memintamu untuk mencintai suamimu dan hidup bersamanya, dan engkau bahagia dengan kehidupan bersamanya.

 Wahai putriku yang belia, ketahuilah bahwasannya keagungan seorang suami yang paling besar adalah kemuliaan yang engkau persembahkan untuknya, dan kedamaian yang paling besar baginya adalah perlakuanmu yang paling baik. Ketahuilah, bahwasanya engkau tidak merasakan hal tersebut, sehingga engkau mempengaruhi keinginannya terhadap keinginanmu dan keridhaannya terhadap keridhaanmu (baik terhadap hal yang engkau sukai atau yang engkau benci). Jauhilah menampakkan kebahagiaan dihadapannya jika ia sedang risau, atau menampakkan kesedihan tatkala ia sedang gembira.

Sungguh hiasilah hari-hari di rumahmu kelak dengan sifat qana’ah dan mu’asyarah, melalui perhatian yang baik dan ta’at pada perintah suamimu. Sesungguhnya pada qana’ah terdapat kebahagiaan qalbu, dan pada ketaatan terdapat keridhaan Allah ta’ala. Buatlah janji di hadapannya dan beritrospeksilah di hadapannya juga. Jangan sampai ia memandang jelek dirimu, dan jangan sampai ia mencium darimu kecuali wewangian.

 “Wahai anakku, jangan kamu lupa dengan kebersihan badanmu, karena kebersihan badanmu menambah kecintaan suamimu padamu. Kebersihan rumahmu dapat melapangkan dadamu, memperbaiki hubunganmu, menyinari wajahmu sehingga menjadikanmu selalu tampak cantik, dicintai, serta dimuliakan di sisi suamimu. Selain itu disenangi keluargamu, kerabatmu, para tamu, dan setiap orang yang melihat kebersihan badan dan rumah akan merasakan ketentraman dan kesenangan jiwa”

 Wahai, putriku yang sebentar lagi akan bersuami, perhatikanlah waktu makan suamimu dan tenangkanlah ia tatkala tidur, karena panas kelaparan sangat menjengkelkan dan gangguan tidur pun menjengkelkan. Jagalah harta dan keluarganya. Dikarenakan kekuasaan dalam harta artinya pengaturan keuangan yang bagus, dan kekuasaan dalam keluarga artinya perlakuan yang baik. Jangan engkau sebarluaskan rahasianya, serta jangan engkau langgar peraturannya. Jika engkau menyebarluaskan rahasianya berarti engkau tidak menjaga kehormatannya. Jika engkau melanggar perintahnya berarti engkau merobek dadanya. (Ahkamu An-Nisa karangan Ibnu Al-Jauzi)

 Ingatlah selalu wahai putriku manis, bahwasanya laki-laki memiliki kata-kata manis nan indah yang lebih sedikit dari pada kamu, yang dapat membahagiakannya. Janganlah engkau membuatnya berperasaan bahwa pernikahan ini menyebabkanmu merasa jauh dari keluarga dan sanak kerabatmu. Sesungguhnya perasaan ini sama dengan yang ia rasakan, karena dia juga meninggalkan rumah orang tuanya, dan keluarga karena dirimu. Tetapi antara dia dan kamu ada kenyataan yang berbeda, perempuan selalu rindu kepada keluarga dan tempat ia dilahirkan, berkembang, besar dan menimba ilmu pengetahuan. Akan tetapi sebagai seorang isteri ia harus kembali kepada kehidupan baru. Dia harus membangun hidupnya bersama laki-laki yang menjadi suami dan perlindungannya, serta bapak dari anak-anaknya. Inilah duniamu yang baru. Tempat di mana, engkau menjadi bagian tak terpisahkan darinya.

 Dan ketahuilah gadis ku yang cantik,

. Abdullah bin Ja’far bin Abu Thalib mewasiatkan anak perempuannya:

“Jauhilah olehmu perasaan cemburu, karena rasa cemburu adalah kunci jatuhnya thalak. Juga jauhilah olehmu banyak mengeluh, karena keluh kesah menimbulkan kemarahan, dan hendaklah kamu memakai celak mata karena itu adalah perhiasan yang paling indah dan wewangian yang paling harum”.

 Dan ketahuilah pula, wahai putriku. Dengan ini, engkau telah keluar dari sarang yang engkau tempati menuju hamparan yang tidak engkau ketahui. Menuju seorang ikhwan yang engkau belum merasa rukun dengannya. Oleh karena itu jadilah engkau sebagai bumi baginya, maka dia akan menjadi langit untukmu. Jadilah engkau hamparan baginya, niscaya ia akan menjadi tiang untukmu. Jadilah engkau hamba sahaya baginya, maka niscaya ia akan menjadi hamba untukmu. Janganlah engkau meremehkannya, karena niscaya dia akan membencimu dan janganlah menjauh darinya karena dia akan melupakanmu. Jika dia mendekat kepadamu maka dekatkanlah dirimu, dan jika dia menjauhimu maka menjauhlah darinya. Jagalah hidungnya, pendengarannya, dan matanya. Janganlah ia mencium sesuatu darimu kecuali wewangian dan janganlah ia melihatmu kecuali engkau dalam keadaan cantik.

 Ketahuilah wahai anakku. Ibu menulis bait ini dengan uraian air mata, bercampur senyum bahagia. Sudah saatnya engkau menerima untuk menempuh hidup baru. Kehidupan di mana ibu, bapak, atau salah seorang dari saudara kandungmu tidak mempunyai tempat di dalamnya. Dalam kehidupan tersebut engkau menjadi teman bagi suamimu, yang tidak menginginkan seorang pun ikut campur dalam urusanmu.

Jadilah istri untuknya wahai anakku, dan jadilah ibu untuk anak-anaknya. Kemudian jadikanlah ia merasakan bahwa engkau adalah segala-galanya dalam kehidupannya, dan segala-galanya di dunia.

(read more ...)





Nov

26

(read more ...)




Setiap diri yang terlahir ke muka bumi adalah sudah menjadi rencana besar Allah SWT untuk scenario sunnatullahNya. Setiap kelahiran yang terjadi, sesungguhnya jauh hari sebelumnya telah terikat janji antara si hamba dengan Kholiqnya, Allah SWT.  QS. 7 : 172

DAN ( INGATLAH ) , KETIKA TUHANMU MENGELUARKAN KETURUNAN ANAK - ANAK ADAM DARI SULBI MEREKA DAN ALLAH MENGAMBIL KESAKSIAN TERHADAP JIWA MEREKA ( SERAYA BERFIRMAN ) : " BUKANKAH AKU INI TUHANMU ? " MEREKA MENJAWAB : " BETUL ( ENGKAU TUHAN KAMI ) , KAMI MENJADI SAKSI " . ( KAMI LAKUKAN YANG DEMIKIAN ITU ) AGAR DI HARI KIAMAT KAMU TIDAK MENGATAKAN : " SESUNGGUHNYA KAMI ( BANI ADAM ) ADALAH ORANG - ORANG YANG LENGAH TERHADAP INI ( KEESAAN TUHAN )" .

 

Pertanyaannya adalah:

Ketika kita diingatkan oleh Allah kembali melalui Qur’an ini, apakah kemudian kita segera sadar akan persaksian itu?

 

Dunia memang penuh warna. Hitam, biru, kuning, hijau, dan aneka warna lainnya. Dunia memang penuh dengan gegap gempita, sorak sorai, maupun gemerlap keindahannya. Namun kesaksian dan perjanjian itu adalah HAQ. Tugas setiap hamba kemudian adalah kembali mengulangi ikrar (syahadat) itu semenjak ia menghirup segarnya udara dunia. Ketika aqil baligh, kokohlah ikatan itu mengikat setiap leher dan urat nadi setiap hamba. Ada dua pilihan : BERIMAN or KUFUR.

 

  1. Ketika Manusia itu Beriman

 

Ketika manusia menyadari eksistensi dirinya, tentunya ia akan sadar akan apa yang harus ia kerjakan. Kemanakah cintanya ia tujukan ? Kemanakah ketaatan dan loyalitasnya ia berikan ? Kemanakah arah hidup akan ia hendak tuju ?

 

Karena itulah harus ada satu upaya cerdas seorang hamba agar ia selalu fresh dan kuat keimanannya.

Rosulullah SAW memberikan satu nasehat agar setiap manusia selalu membarui syahadatnya. Itu artinya, adalah sebuah keharusan setiap diri melakukan muhasabah setiap waktu, setiap hari dan setiap keadaan.

 

Di setiap terbuka mata dari setelah tidur (mati) kita, sejenaklah merenung untuk memikirkan tentang kondisi syahadat kita pada hari itu. Apa yang kau pikirkan di pagi itu, akan mempengaruhi langkah kakimu di sepanjang hari itu. Jadi sejak mata terbuka, hendaklah Allah selalu teringat oleh kita. Karena itulah Islam mengajarkan hal mulia setiap manusia terjaga dari tidurnya. BERSYUKUR dan MENGAKUI/MEMPERBAIKI pengakuan/syahadatnya dengan diimplementasikan melalui doa bangun tidur.

“Segala puji bagiMu ya Allah yang telah membangkitkan aku dari setelah kematianku. Dan Hanya kepadaMu Ya Allah aku kembali”.

 

Ketika hari kita mulai dengan ingat kepada Allah SWT, ketika hari kita mulai dengan sanjungan syukur kepada Allah SWT, ketika hari kita mulai dengan mengharap bimbingan dan pemeliharaan Allah SWT, dan ketika hari kita mulai dengan rasa pasrah kembali kepada Allah SWT, maka apa yang akan dapat menjadikan seorang mukmin bersedih hati? Apa yang akan bisa membuat seorang mukmin takut menapaki perjalanan hidup ini? Allah SWT sungguh telah berjanji kepada setiap manusia beriman : Laa Khoufun wala yahyanuun. –janganlah kalian takut dan juga bersedih hati--.

 

Ketika kita memang mengundang Allah SWTuntuk hadir dalam setiap waktu kita, dalam setiap langkah kita, dalam setiap urusan kita, dalam setiap asa dan harapan kita…. Maka sesungguhnya tiadalah Allah akan membiarkan hambaNya berjalan sendiri mengarungi kehidupannya. Maka seungguhnya Allah SWT akan sangat dekat dengan dirinya. Tangan, kaki, mulut dan akalnya akan bergerak dengan bimbingan Allah SWT. Setiap kesulitan, kesusahan, beban hidup, akan terasa begitu nikmat untuk dijalani, ada selalu solusi dan hikmah yang bisa diambil darinya.

 

Sesungguhnya makannya, tidurnya, bekerjanya, diamnya, berdiri/duduknya, berjalan atau berhentinya adalah ibadah bagi dia. Hatinya selalu bercahaya karena mengingat Allah, lisannya selalu basah dan mulia dikarenakan mnyebut asma Allah. Tiada satu butir nikmatpun yang tidak ia syukuri dan ia sia – siakan. Ia selalu merasa diawasi dan bergantung kepada Allah, sehingga ia selalu hati – hati dan waspada dalam menggunakan nikmat – nikmat Allah. Ia selalu rindu perjumpaan dengan Allah, ia selalu berharap ujung dari kehidupannya (saat kematianya) dalam keadaan ridha Allah.

 

“Wahai jiwa yang tenang kembalilah kepada rabmu dengan hati yang tenang. Yang Allah ridha kepadamu dan engkau ridha kepadaNya. Masuklah wahai hambaKu, masuklah engkau ke dalam surgaKu.” (QS. 89:27)

 

Sesungguhnya Allah SWT amat sangat dekat dan cepat menghampiri hamba – hambaNya yang dengan segala kepasrahan datang menuju kepadaNya. Seungguhnya pertolongan Allah SWT akan selalu menjadi payung bagi teriknya panas dunia.

 

Wahai Allah, mudahkanlah lisan ini untuk menyebut dan memanggil AsmaMu, ringankanlah hati ini untuk memenuhi panggilanmu dan menerima hidayahMu, teguhkanlah kaki ini untuk tetap menapaki jalan ridhoMu.

 

  1. Ketika Manusia itu kufur

 

Bagaimanakah keadaan dan sikap dari orang – orang yang kufur?

Sungguh amatlah buruk kelakuan mereka. Tiada waktu yang tidak mereka gunakan untuk menentang Allah, tak segan – segan juga mereka memaki dan mencela Allah SWT. Begitu keras dan gelapnya hati mereka. Tidak cukup 1 ayat, 2 ayat, 3 ayat, 1 surah bahkan Qur’an yang sempurna mampu merubah mereka. Sungguh hati, mata, dan telinga mereka telah mati dikarenakan kelakuan mereka sendiri. Allah berfirman QS. 2 : 6 -7.

‘‘ Orang – orang yang kafir adalah sama saja bagi mereka, apakah kau peringatkan mereka atau tidak kau peringatkan mereka. Mereka tetap tidak akan beriman. Allah telah menutup mati hati mereka, dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka. Dan bagi mereka siksa yang besar.”

 

Tidak ada yang keluar dari mulutnya selalin cacian dan makian sebagai wujud tiadanya iman dalam dirinya. Keluh kesah dan menyalahkan Allah adalah dzikirnya, maksiat adalah pekerjaannya, sumpah serapah itulah doa – doanya.

 

Ketika mata terbuka dari setelah tidurnya, bukan pujian dan syukur keluar dari bibirnya. Setiap mata terbuka, dunia yang ada dalam pikirannya. Maksiat dan kemungkaran itulah program hidupnya.  Maka pantaslah kalau neraka dan siksa Allah diberikan pada mereka.

 

KESOMBONGAN

 

Sombong sering diidentikkan dengan orang yang berjalan dengan pongah, tidak mau menegur, berdiri berkacak pinggang, atau seseorang yang dalam kemewahan kemudian tidak mau berbagi dengan yang kekurangan.

 

Tapi tahukah kita, bahwa cukuplah seseorang yang menyisakan satu butir nasi tidak ia ambil dan dimakan itu sudah berlaku sombong. Cukuplah orang yang tidak mau berdoa ketika akan tidur dan bangunnya itu disebut sombong, atau orang yang mengatakan “ah, ini mah kecil. Gini aja kok ga bisa” atau “lihat nich aku….”.

 

Astaghfirullahal ‘adhim….na‘udzubillahi min dzalik.

 

Sesungguhnya satu butir nasi itu rizki dari Allah untukmu, yang disana ada berkah dari Allah, sesungguhnya setiap doa yang kau lantunkan itu adalah sebagai tanda engkau mengakui diri sebagai hamba Allah dan selalu merasa lemah tanpa pertolongan dan kasihsayang Allah, seungguhnya kekuatan itu milik Allah dan hanya padaNya kita mohon kekuatan dan perlindungan.

 

Mengapa tidak kau ambil satu butir nasi itu ? Apakah tidak kau berfikir satu butir nasi itulah yang telah menjadi saksi atas kekufuranmu kepada Allah. Alangkah sombongnya diri ketika seperti itu. Mengapakah engkau tidak mau berdoa? Surga itu milik Allah, dunia seisinya juga milik Allah. Karena itulah setiap manusia wajib meminta kepadaNya. Ketika dia tidak memintanya, samalah dia mengambil tanpa perkenan dari pemiliknya. Dan itu sama artinya dia adalah Pencuri.

Setiap manusia selalu dibatasi dengan kelemahan dan kemampuan, sehingga tidak ada yang terjadi atasnya kecuali ijin Allah. Karena itulah setiap manusia wajib berdoa kepadaNya. Sehingga apabila sesuatu itu terwujud maka sungguh ada ketenangan dan ridha Allah di sana, dan apabila hal tersebut tidak tercapai maka sesungguhnya itu adalah yang baik untuk dia.

 

Sebaliknya ketika manusia dengan kesombongannya tidak mau berdoa kepadaNya, sungguh andaipun tercapai apa yang diinginkannya, maka yang sebenarnya ia sedang menguntai tali neraka di lehernya, sesungguhnya ia telah mengumpulkan murka Allah untuk ditimpakan kepadanya. Dan itu hanya masalah waktu kamu akan terjadi.

 

Begitu juga seorang yang mengatakan “ kalau bukan aku… dan sejenisnya, maka betapa sombongnya dia, sunguh kekafiran telah menyelimuti dirinya. Ia telah lupa bahwa Allah sajalah yang menjadikan segala sesuatu itu terjadi. Betapa manusia seperti ini telah mendustakan Allah Yang Maha Kuasa. Lalu apa yang pantas bagi orang seperti ini?

 

RENUNGAN

 

Wahai diri, sedari bangun pagi ini… sudahkah lisan digunakan untuk bersyukur dan memuji….

Wahai diri, sebanyak apakah dzikir dan syukur membasahi lisanmu dibandingkan umpatan dan cacianmu terhadap keadilan Rabbmu….

Wahai diri, sudahkah kau memohon kepada Allah untuk menyertaimu dalam setiap langkahmu hari ini….

Wahai diri, sudahkah kau menyertakan Allah dalam setiap urusan yang membebani punggungmu…

Wahai diri, masihkah kau tidak ingat betapa Allah telah kau pinggirkan dengan keangkuhanmu…

Wahai diri, tidakkah kau tidak ingat betapa Allah telah menitipkan ridhanya pada kedua orangtuamu, sementara engkau tidak pernah lelah dan henti menyakiti mereka dan mengecewakannya…

Wahai diri, tidakkah kau ingat betapa beraninya kau campurkan ibadahmu dengan ambisi duniamu…

Wahai diri, mengapa tidak kau ingat lagi betapa banyak tangan tengadah kepadamu…kemudian kau berlalu tanpa kau penuhi harapan itu, padahal kau mampu…

Wahai diri, mengapa tak kau ingat betapa sering kau mengatakan” ya Robbi, ampunilah dosaku”… tapi kemudian kau tumpuk lagi dosa – dosa itu…

Wahai diri, tidakkah kau ingat…kekotoran mulutmu…kepicikan akalmu…. Begitu ngeresnya pikiranmu…

Wahai diri, tidakkah kau ingat ketika dua mata begitu terpesona dan hanyut dalam pandangan dosa…

Wahai diri, tidakkah kau ingat ketika telinga begitu senangnya mendengar cacat dan keburukan orang lain…

Wahai diri, tidakkah kau ingat ketika Allah memanggilmu, kau katakana “nanti saja” padahal Allah tak pernah menunda nikmanya kepadamu….

Wahai diri, tidakkah kau ingin kembali kepadaNya….

Tidakkah kau rindu berada dipangkuanNya….

Tidakkah kau ingin hidup dalam terangnya cahayaNya….

Tidakkah kau ingin mengambil surga dariNya…

Tidakkah kau ingin dihapuskan atas setiap dosa…

Dosa yang menggunung….tinggi melampui tingginya cita – citamu…

Dosa yang mencekik leher akibat kelalaianmu…

Tidakkah kau ingin itu?

Kalau masih ada sisa airmatamu….menangislah!

Sebab itu baik bagimu.

Kalau masih ada sisa airmatamu….menangislah!

Sebab panasnya neraka akan dingin atas tetasan air mata itu.

Kalau masih ada sisa airmatamu….menangislah!

Sebab ia bisa meneduhkan mata dan hatimu.

Kalau masih ada sisa airmatamu….menangislah!

Sebab setiap dosa akan luluh bersama airmatamu.

Kalau masih ada sisa airmatamu….berdirilah, rukuklah, sujudlah!

Sebab Allah tidak akan mengecewakanmu atas semua doa – doamu.

Disisa masa hidupmu…. Datanglah dan bersimpuhlah, sujudlah…mohon ampunlah…mintalah rahmat bagimu…. Disisa hidupmu….berjanjilah hanya Allah yang ada dalam hidupmu…!

Wallahu a’lam bish showab.

(read more ...)



Setiap fitrah manusia ketika ia dipaksakan berjalan dan hidup melenceng dari garis / jalurnya akan meninggalkan kegalauan demi kegalauan hidup. Dari mulai hati yang semakin hari semakin kosong, seakan hidup tanpa arah / tujuan, semangat hidup yang lemah, kesenangan yang cuma sekedar lewat, dan sebagainya ....
Akhirnya tiada satupun hal dari perjalanan hidupnya itu memberi kesan berarti, ia sedih tapi tidak tahu kenapa, ia tertawa namun detik berikutnya ia menangis teramat pilu ...
Semua yang di depan matanya tak ia rasakan sebagai sebuah kedamaian. Hartanya, jabatannya, pasangan hidupnya, hobbinya, istirahatnya, aktifitasnya, dan semuanya ia rasakan beku .... kosong .... sekejap .... hambar ...!
Rosulullah SAW pernah memberikan nasehat : " Kebahagiaan itu disini (sambil menunjuk dada beliau) "
Yupz ... disanalah bersemayam fitrah diri, disanalah ada semua impian dan kebahagiaan ... Jangan biarkan gersang, sirami dengan ketaatan kepada NYA dan Rosul NYA, cinta sesama karena Nya, jujur terhadap diri sendiri maupun kepada selain dirinya, dan terpenting : JAUHILAH DOSA DAN MAKSIAT pada NYA !

(read more ...)



Saat kau dikhitbah / sampai dinikahi, sadarlah bahwa ia datang membawa pesan Rosul SAW untuk memintamu karena sunnah Rosulnya.
Sebelum ia kau terima, fahamilah bahwa ia tidak serahkan 100 % cintanya padamu.
Begitupun saat kau ingin menolaknya, mengertilah bahwa ia tidak meminta persetujuanmu, tapi ia datang untuk meminta restu dari Rabb-nya.
Kelebihan yang kau lihat padanya, adalah gambaran atas kekurangan yang ada padamu.
Kekurangan yang kau lihat padanya, adalah satu perintah buatmu melengkapinya.
Katakan pada dia,"aku bersedia kalaupun harus menjanda, asal kau SYAHID di jalan-NYA. Aku siap sengsara, asal itu resiko dalam perjuangan dijalan-Nya. Aku siap bergembira, meski dunia mencacinya karena kau Hidup di jalan-NYA. Aku bersedia seribu kali bertaruh nyawa melahirkan putra - putri pelanjut perjuanganmu di jalan-NYA. Insya Allah".

(read more ...)